, , , ,

Potret Kehancuran Akibat Banjir Bandang & Longsor, Ratusan Orang Tewas

oleh -122 Dilihat

Tebing Tinggi – Potret Kehancuran Pemandangan puing-puing rumah, jalan terbelah, dan jembatan ambruk menjadi saksi bisu tragedi banjir bandang dan longsor yang menelan banyak korban jiwa.

Sebelumnya, media melaporkan juga korban mencapai 199 tewas dan beberapa hilang, menunjukkan betapa masif dan mematikan bencana ini.

Di Indonesia, Sumatera Barat mengalami bencana hebat pada 2024 akibat hujan deras dan lahar dingin dari Gunung Marapi. Lebih dari 67 orang meninggal, dan puluhan lainnya hilang.

Ribuan rumah hanyut, jembatan rusak, dan akses jalan terputus, memperparah proses evakuasi dan penanganan darurat.

Di Sumatra secara umum, bencana banjir bandang dan longsor antara Maret dan April 2024 menewaskan 26 orang serta menyebabkan kerusakan mencapai Rp170 miliar.

Di Jawa Tengah, khususnya di Pekalongan, banjir dan longsor menerjang Desa Kasimpar, Petungkriyono, dan menewaskan antara 15 hingga 20 orang, serta melukai puluhan lainnya.

Potret Kehancuran
Potret Kehancuran

Baca Juga : Digitalisasi dan Konektivitas Internet Perkuat Program Pemerintah

Seorang warga menggambarkan situasi mencekam: aliran air deras menghantam rumah, sementara longsor menyusul, membuat banyak yang terjebak.

Di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, bencana rangkap juga terjadi: 14 orang tewas akibat kombinasi banjir bandang dan longsor, serta ribuan orang mengungsi.

Gambar-gambar di atas memperlihatkan: reruntuhan bangunan, jalan berantakan, dan pekerja penyelamat menembus lumpur, berusaha menemukan korban.

Kompleksitas bencana seringkali diperparah oleh akses yang sulit: jalan rusak dan malam hari menyulitkan penyelamatan korban.

Kerusakan infrastruktur seperti jembatan dan jalan menghancurkan konektivitas, menghambat bantuan cepat.

Laporan korban hilang pun menjadi tragedi tersendiri, dengan puluhan hingga ratusan keluarga menanti kabar hingga hari-hari berikutnya.

Media internasional mencatat, bencana–seperti di RD Kongo—menyisakan “tanah kosong” di mana desa dulu berdiri, menandakan luasnya dampak.

Sementara di Pakistan, rentetan bencana menambah korban di kalangan perempuan dan anak-anak—termasuk 15 wanita dan 13 anak-anak tewas

Setiap kejadian memperlihatkan pola serupa: hujan ekstrem, longsor tumbuh cepat, dan kondisi geografis memperparah dampak.

Para penyelamat bekerja tanpa henti: mencari korban, membersihkan jalan, dan membantu evakuasi di tengah kondisi bahaya

Skintific