, ,

Harga Minyak Melemah Tersengat Sentimen dari AS

oleh -562 Dilihat

Tebing Tinggi– Harga Minyak Melemah dunia kembali mengalami pelemahan dalam perdagangan pekan ini, tersengat oleh berbagai sentimen negatif yang datang dari Amerika Serikat.

Dalam penutupan perdagangan Kamis waktu setempat, harga minyak mentah Brent turun sebesar 1,7% ke level US$ 82,14 per barel, sementara minyak WTI (West Texas Intermediate) melemah 2% ke US$ 77,96 per barel.

Harga Minyak Melemah
Harga Minyak Melemah

Baca Juga : Jelang September Waspada Hujan Masih Mengintai di Musim Kemarau

Salah satu faktor utama yang menekan harga adalah laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) yang mencatat lonjakan tak terduga pada stok minyak mentah AS.

Persediaan minyak mentah AS naik lebih dari 3 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar yang memprediksi penurunan.

 Kenaikan stok ini memperkuat kekhawatiran bahwa permintaan minyak di AS mulai melambat, di tengah ancaman inflasi yang terus membayangi.

Inflasi yang tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan mengurangi aktivitas industri, yang secara tidak langsung menekan konsumsi bahan bakar.

Sentimen lain yang ikut memperburuk harga minyak adalah penguatan dolar AS, yang membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi negara-negara lain.

Dolar menguat setelah The Fed memberi sinyal kemungkinan menahan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan pasar.

Suku bunga tinggi biasanya memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan permintaan energi global.

 Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pemangkasan produksi oleh OPEC+.

Namun, ekspektasi bahwa ketegangan tersebut akan mereda dalam jangka pendek membuat pelaku pasar memilih mengambil posisi wait and see.

Sementara itu, OPEC+ tetap mempertahankan kebijakan pengurangan produksi, tetapi dampaknya mulai berkurang karena pasokan dari negara-negara non-OPEC, seperti AS dan Brasil, meningkat.

Produksi minyak serpih (shale oil) di AS terus bertumbuh dan membuat pasar kelebihan pasokan di tengah permintaan yang stagnan.

Kondisi ini memicu aksi jual dari investor institusional yang sebelumnya menempatkan dana di pasar komoditas energi.

Selain itu, faktor cuaca juga berkontribusi terhadap pergerakan harga. Musim panas di belahan bumi utara tahun ini lebih pendek dari biasanya, mengurangi permintaan untuk bahan bakar transportasi.

Penurunan aktivitas kilang di China, sebagai konsumen energi terbesar kedua dunia, juga menambah tekanan pada harga.

 China melaporkan penurunan impor minyak mentah pada Juli dan Agustus, seiring pelambatan pertumbuhan ekonominya.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.